Tips Meneliti, Mengetahui dan Memilih Status Tanah Apartemen

Bangunan apartemen bergelimpangan di penjuru kota tapi tak semuanya memiliki kredibilitas. sebelum membeli, ada baiknya anda periksa terlebih dahulu status lahanya.

Yang pasti status kepemilikan lahan harus jelas, kalau tidak saya pasti tidak akan beli," jawab Mitha (30), seorang penghuni apartemen di kawasan jakarta pusat, saat ditanyai mengenai hal penting apa yang ia perhatikan sebelum membeli properti.

Ya, hal terpenting yang harus anda ketahui sebelum membeli properti - tanah, rumah, maupun apartemen adalah status hukum atas properti tersebut. Status hukum ini umumnya dibuktikan melalui sertifikat kepemilikan yang akan menjadi bukti penguasaan sah atas lahan yang kita miliki.

Yulius Setiarto, SH, konsultan hukum properti bernama Setiarto & partners law firm, mengutarakan bahwa sertifikat kepemilikan lahan yang jelas akan menghindari anda dari masalah sengketa lahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. untuk mendapatkan sertifikasi lahan yang jelas, anda harus mengetahui status kepemilikan lahan atas bangunan yang anda akan beli. karena, bisa saja pihak pengembang memberikan informasi palsi atas status lahan tersebut.

Lantas bagaimana caranya mengecek status kepemilikan lahan atas bangunan tersebut?

MENGECEK SERTIFIKAT KHUSUS RUMAH VERTIKAL
Dalam peraturan undang-undang nomor 5 tahun 1960 tentang pokok-pokok agraria, terdapat 2 jenis sertifikat yaitu Sertifikat Hak Milik (SHM) dan Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB). Namun dalam perkembanganya, kebutuhan perumahan di perkotaan yang memerlukan bangunan perumahan dalam bentuk vertikal melahirkan jenis sertifikat baru, yakni Sertifikat Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun (SHMASRS). Sertifikat inilah yang menjadi bukti kepemilikan yang sah terhadap pemegang hak atas satuan rumah susun (Strata Title).
Tak seperti rumah tapak, SHMSRS berisi pengaturan hak perseorangan atas unit satuan rumah susun yang dimilikinya. selain itu hak satuan rumah susun tersebut juga meliputi hak kepemilikan bersama atas area, tanah dan benda tertentu. Kepemilikan bersama ini meliputi taman, tempat parkir, fasilitas ibadah, dan lainya.
SHMSRS ini terbitkan oleh badan pertanahan nasional (BPN) dan bisa juga diperoleh dari pengembang jika perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) telah ditanda tangani antara pembeli dan pengembang (developer), serta salinan atas buku tanah telah dijilid menjadi dokumen. Sementara itu, penandatanganan PPJB bisa dilaksanakan setelah pembayaran dilakukan secara lunas oleh pembeli. Yulius membeberkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh SHMSRS ini tidak dapat diprediksi karena sangat tergantung pada kecepatan pengembang dalam mengurus sertifikat tersebut.

AGAR TERHINDAR DARI SENGKETA LAHAN
Beberapa orang masih banyak yang meragukan tinggal di apartemen. salah satu alasanya adalah status kepemilikan yang masih kurang jelas juntrunganya . Yulius bahkan membeberkan beberapa kasus yang kerap ia temui di lapangan. Misalnya, kasus pengadua para penghuni apartemen di kawasan mangga dua yang merasa ditipu oleh pihak pengembang. Belakangan mereka tahu bahwa status lahan bukanlah SHGB murni melainkan SHGB diatas hak penguasaan lahan (HPL) milik pemerintah. sehingga, mereka tidak dapat memperoleh SHMSRS yang seharusnya dapat diperoleh dengan status SHGB murni.
Yulius menuturkan memang dalam hak kepemilikan (strata title) apartemen, SHGB murni merupakan hak milik diatas tanah pengembang dan murni dibebaskan oleh pihak pengembang. sehingga pemilik unit dapat mengajukan SHMSRS. sementara itu SHGB di atas HPL merupakan hak milik apartemen diatas tanah pemerintah. Pemilik apartemen dengan status ini tidak dapat memperoleh SHMSRS. oleh sebab itu Yulius menyarankan sebelum membeli konsumen sebaiknya menelusuri terlebih dahulu status tanah apartemen tersebut. Bila anda sekedar menyewa tak masalah bila status tanahya SHGB diatas HPL, namun bila anda berniat untuk memilikinya maka pilihanya harus jatuh pada SHGB murni.

Ringkasan

1. Cari informasi mengenai status kepemilikan lahan apartemen tersebut melalui internet.
2. Datangi secara langsung lokasi kemudian gali informasi melalui warga sekitar kawasan tersebut
3. Jangan ragu untuk menanyakan kepada pihak marketing perusahaan mengenai status lahan.
4. Tanyakan pula mengenai status IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Bila dalam proses pembuatan sebaiknya minta kejelasan sampai kapan proses tersebut selesai. IMB bermasalah juga akan menimbulkan sengketa lahan.
5. Jangan ragu untuk meminta pihak pengembang menunjukkan sertifikat kepemilikan apartemen tersebut. Sebagai konsumen anda berhak mengetahui hal tersebut.


HW - 08/03/2016